Kamis, 22 November 2012

TECHNOPREUNERSHIP


USAHA IKAN BAKAR DAN KOLAM PEMANCINGAN

Dharmasraya merupakan sebuah daerah yang baru berkembang, di daerah yang baru berkembang tentu saja peluang membuka sebuah usaha sangatlah besar, karna jenis usaha yang ada di sana tentu belumlah beragam dibandingkan di daerah yang sudah maju, saya melihat usaha yang tepat didarmasraya ini adalah sebuah usaha kuliner yaitu USAHA IKAN BAKAR DISERTAI KOLAM PEMANCINGAN karena karna di dharmasraya semua tempat kuliner sangat ramai di kunjungi  dan orang dharmasya juga banyak yang hobi memancing, dari kalangan anak-anak sampai orang dewasa, kolam-kolam pemancingan yang ada didharmasraya sangat ramai pengunjung nya, karena biasanya di sore hari sesudah  melakukan aktifitas atau pekerjaannya mereka akan menghabiskan waktunya untuk memancing.

Dalam membuka usaha ini kita harus memperhatikan hal-hal  berukut, yaitu :

11       Kita harus memenuhi pelayana primer konsumen
Yaitu : pemuatan barang atau jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang mana lebih dipengaruhi oleh pasar atau konsumen yang dilayani oleh perusahaan bersangkutan. Dalam usaha ini tentu kebutuhan primer yang kita sediakan adalah ikan yang akan dipancing dan kolam pancingan dan tempat pembakarannya serta tempat yang nyaman untuk memakan ikan yang telah siap di bakar tersebut.

22       Pelayanan kolateral

Yaitu : perbedaan antara tujuan primer perusahaan dengan tujuan individu atau kelompok dimana tujuan kolateral akan tercapai bila tujuan primer telah terpenuhi, contohnya: disamping kita mempunyai usaha kolam pemancingan dan tempat pembakaran kita bisa menyediakan berbagai macam minuman, pulsa, alat-alat pemancingan. Karena tujuan kolateral juga terpenuhi pelanggan akan terasa puas dan akan betah di sana

33       Pelayana sekunder

Yaitu :  nilai-nilai yang diperlukan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan primer sehingga sumber daya yang ada harus dikelola dengan baik. Disamping pelayanan kolateral pelayanan sekunder juga sangat mendudukung karna  tempat, keramahan pedagang, atau keramahan karyawan itu sangat mendukung, apabila pelanggan merasa termewahkan maka penghasilan dari usaha yang kita buka akan berkembang dengan baik.


Manajemen usaha yang baik
Yatu: suatu proses untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya sasaran yang dicapai berupa :
A.      Perencanaan
  Yaitu : langkah awal dari suatu fungsi manajemen yng menjadi sutu pedoman    pelaksanaan kerja bentuk-bentunya yaitu : sasaran, kebijakan, strategi prosedur, aturan dan  program dalam usaha ini.
B.      Pengorganisasaian
Yatu : suatu roses penciptaan hubungan antara berbagai fungsi personalia dan faktor-fakator fisik agar semua pekerjaan  yang dilakukan dapat bermamfaaat dan terarah pada tujuan
C.      Pengkoordinasian
Yatu ; proses pengintegrasian  tujun dan aktifitas unit-unit yang yang terpisah dalam suatu perusaan untuk mencapai tujuan yang elah ditetapkan yang bermanfaan untuk efesien pekeraan, suasana kerja, kesatuan tujuan , menghindari konflik dan adanya kesatuan siakap.

D.      Pengendalian
Yaitu : aktifitas untuk menentukan mengoreksi adanya penyimpangan-penyimangan dari hasil yang telah dicapai dibandingkan dengan rencana kerja yang telah ditetapkan. Adapun  proses pengendalian yaitu :
  • Menetapkan standar dan metode
  •  Mengukur prestasi kerja
  • Menentukan prestasi kerja yang sesuai standar
  • Mengambil tintandakan korektif atau mengoreksi.
Selengkapnya...

SYUKUR DAN SHABAR

Alhamdulillah setiap puji hanyalah milik Alloh pemilik segenap pujian, shalawat semoga tersampaikan kepada khoirul anam Rasulullah al-musthafa saw. Tidak ada satupun kejadian bahkan jatuhnya selembar daun kecuali ada dalam lingkup ilmu Alloh ta’ala. Tidak ada satu kejadianpun kecuali semuanya telah tertulis di lauh mahfudz, meski demikian Alloh Maha Bijaksana dengan memberikan kepada manusia kemampuan akal dan ikhtiyar jasadi dan ruhani untuk bisa sampai kepada suatu peristiwa dengan tetap memiliki nilai ibadah di hadapan Alloh ta’ala. Karena itulah Alloh mengatakan bahwa tidak ada satupun peristiwa kecuali BAIK bagi manusia. Artinya tidak ada satupun kejadian pada kehidupan manusia kecuali bisa menjadi sarana dirinya berkhidmat, beribadat kepada-Nya. ’ala kulli hal ketika manusia mampu memahami hal ini, maka tidaklah kepedihan akan mengguncangkan ruhaninya, tidak satupun kegembiraan akan mampu melalaikan dirinya, segala yang terjadi akan senantiasa menjadi media bagi dirinya dalam taqarub ‘ala – l-lah.

Syukur dan shabar, sesungguhnya adalah dua sisi dari mata uang yang sama, tidak ada satupun peristiwa yang terjadi kecuali di dalamnya manusia dituntut untuk bisa bersyukur dan bershabar. Syukur dalam arti selalu ada sisi kebaikan pada setiap peristiwa, dan shabar karena senantiasa ada sisi ancaman pada setiap peristiwa. Karena dalam kehidupan manusia di dunia tidaklah ada kebaikan mutlak dan kejelekan mutlak, akan tetapi keduanya bergabung menjadi satu pada setiap moment kehidupan manusia. Siapa yang bisa mengatakan bahwa SAKIT adalah kejelekan mutlak, bukankah jika dengan SAKIT maka berguguran dosa manusia seperti bergugurannya daun di musim gugur adalah sebuah kebaikan ??? Dengan demikian, dalam SAKIT ada kebaikan dan kejelekan, ada yang harus di syukuri dan ada yang harus dihadapi dengan keshabaran. Demikian juga dengan SEHAT, itu bukanlah kebaikan mutlak, karena dengan SEHAT manusia juga bisa lalai dari mengingat Alloh, sehingga dalam SEHAT juga manusia dituntut untuk shabar dan syukur. Karenanya dalam pemikiran saya, yang harus dibenahi adalah bagaimana manusia mampu melihat dan memahami bahwa seluruh perjalanan hidupnya mustilah berisi jalinan syukur dan shabar.

Terkait fenomena yang dialami, ada beberapa hal yang harus dibenahi :

1. BELUM ADA KESAMAAN TITIK PANDANG

Dalam memahami sesuatu yang mungkin secara istilah SAMA, keluarga sakinah, mawadah wa rahmah, furqon, dlsb secara istilah sama, akan tetapi pemaknaan terhadap istilah istilah tersebut kadang beragam. Apalagi ketika kemudian diturunkan dalam dataran yang sifatnya praktis di kehidupan keseharian, sehingga sangat dimungkinkan bagi seseorang sikap tertentu adalah wujud dari dimilikinya furqon, bagi yang lain justru satu sikap yang konyol dan kekanak kanakan !!!! Sebagian akan memandang satu kondisi adalah mawadah, rahmah, dan sakinah bagi yang lain hanyalah sebuah romantisme, permainan rasa dan naluriah semata !!! Pada kondisi semacam ini saya kira harus ada kemauan dan keberanian untuk mencoba mendiskusikan istilah istilah yang sudah lazim terdengar akan tetapi memiliki makna yang sangat beragam. Pada titik inilah ada persoalan kedua yaitu :

2. BELUM TERJALIN KOMUNIKASI POSITIF

Yang dimaksud adalah bagaimana sebuah jalinan interaksi kemunikasi yang positif dan tidak negatif, komunikasi yang bisa mendekatkan dan bukannya malah menjauhkan. Komunikasi positif hanyalah bisa terjalin ketika berawal dari dorongan kesadaran untuk mencoba mau berdialog, tidak menutup diri, mau berbagi dan tidak bersikukuh dengan sudut pandang pribadi. Mau mencoba untuk memahami dan mengerti apa yang menjadi pemikiran yang lain, dan mau mengkomunikasikan yang dipahami disertai kesiapan untuk menerima koreksi jika ada kesalahan. AWALI DARI DIRI SENDIRI !!!

Seringkali sebuah komunikasi yang positif bisa terjalin jika berawal dari suasana yang positif, pandai pandailah melihat momentum positif tersebut, jeli melihat waktu kapan mengkomunikasikan, dan tidak terburu buru menharapkan adanya perubahan. Ada kalanya perubahan terjadi setelah waktu yang sangat panjang terlampaui, pada kondisi tersebut MUTLAK dituntut adanya keshabaran dalam menjalaninya, ingatlah bahwa waktu yang dilalui itu TIDAK SIA SIA karena PASTI akan menjadi nilai bakti kita di hadapan Alloh ta’ala.

Komunikasi yang positif bukanlah ADU ARGUMENTASI, tetapi bagaimana dampak komunikasi pada perubahan yang terjadi ke arah yang lebih baik. Bantahan, penolakan, kadang bukan merupakan KETIDAKSETUJUAN tetapi lebih merupakan naluriah untuk MENGURANGI BEBAN pengakuan akan sebuah KESALAHAN. BIJAKSANALAH mensikapi hal seperti itu !!!!!

Pada titik inilah dimungkinkan ada persoalan yang menjadi hambatan dalam menjalin sebuah komunikasi positif, yaitu :

3. TERLALU MENUNTUT SEBUAH IDEALISME DIRI

Sebenarnya merupakan sebuah KEWAJARAN ketika kita dengan pemahaman tertentu menginginkan adanya sebuah kondisi IDEAL sesuai dengan pemahaman kita terhadap sesuatu, akan tetapi ketika keinginan tersebut berubah menjadi sebuah TUNTUTAN yang MESTI SEGERA terjadi maka yang muncul adalah sebuah KEGELISAHAN. Tanpa sadar kita terjebak dalam sebuah situasi PEMAKSAAN keinginan –meski keinginan tersebut bukan sesuatu yang salah- tanpa mau mengerti dan memahami kondisi yang dilalui.

Pedahal di lain sisi kita juga memahami bahwa sebuah perubahan hanyalah akan terjadi manakala terjadi hubungan SINERGIS antara pemikiran yang melahirkan PEMAHAMAN, menumbuhkan KEYAKINAN, baru kemudian memberikan dorongan JASADI untuk berbuat sesuai dengan KEYAKINANNYA tersebut.

Terakhir ada ungkapan dari seorang ‘ulama : Alloh itu Maha Rahman, maka belajarlah mencerap asma Alloh tersebut dengan cara belajar MENATAP sesuatu dengan TATAPAN RAHMAT dan BUKAN dengan TATAPAN LAKNAT . . .

MINTA –dengan do’a- kepada Alloh, YAKINI bahwa yang kita minta PASTI DIBERIKAN, JALANI proses menuju yang kita minta dengan SIKAP OPTIMIS dan PANDANGAN POSITIF . . . Insya Alloh dengan demikian keseluruhan kehidupan kita akan SAKINAH . . . PENUH BERKAH dan RAHMAH . . . wallahu’alam.


Selengkapnya...

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP